ARTIKEL PENDIDIKAN DI MASA PANDEMI COVID 19 SDN NAIKOTEN 1
ARTIKEL
PENDIDIKAN DI MASA PANDEMI COVID 19 SDN
NAIKOTEN 1
Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sudah
lebih dari delapan bulan terakhir ini berdampak terhadap perubahan aktifitas
belajar-mengajar. Tak terkecuali di negeri ini, sejak medio Maret aktifitas pembelajaran
daring (online learning) menjadi sebuah pilihan kementerian pendidikan dan
kebudayaan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 semakin meluas. Praktik
pendidikan daring (online learning) ini dilakukan oleh berbagai tingkatan
jenjang pendidikan sejak tingkat SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Tidak
ada lagi aktifitas pembelajaran di ruang-ruang kelas sebagaimana biasanya ilakukan
oleh tenaga pendidik: guru maupun dosen. Langkah yang tepat namun tanpa
persiapan yang memadai. Akibatnya banyak tenaga pendidik gagap menghadapi
perubahan drastis ini. Sementara itu praktis tidak ada cara lain untuk
meminimalisir penyebaran Covid-19 selain dengan membatasi perjumpaan manusia
dalam jumlah yang banyak. Pemerintah pun membatasi pertemuan, maksimal 30-40
orang. Itupun dengan protokol kesehatan yang sangat ketat: penggunaan masker,
menjaga jarak minimal 1,5 meter, mencuci tangan memakai sabun. Hal ini
didasarkan pada pendapat para ahli kesehatan di seluruh dunia setelah mereka
melakukan riset bagaimana memutus mata rantai Covid-19.
Kegagapan pendidikan daring Arena sekolah,
sebagai ruang belajar mengajar antara murid dengan guru, mahasiswa dengan dosen
pun pada akhirnya dilarang dilakukan. Sebagai gantinya yakni pembelajaran
secara daring. Perubahan sangat cepat ini tanpa diiringi persiapan yang memadai
sebelumnya, akibatnya banyak kegagapan menghadapinya. Hal ini pun diakui oleh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Nadiem berpendapat,
"kita harus jujur proses adaptasi ke online learning juga sangat sulit.
Paling tidak masih ada pembelajaran terjadi daripada sama sekali tidak ada
pembelajaran”. Statemen pelipur lara, ketimbang langkah cepat menyiapkan
infrastruktur.
Pembelajaran daring yang belum
dipersiapkan secara matang ini tentu berdampak terhadap metode pembelajaran
yang dilakukan oleh para tenaga pendidik. Demikian pula penerimaan atas
pembelajaran dari para peserta didik pun sangat beragam, seringkali tidak
memahami materi maupun penyampaian dari guru. Terlebih orang tua atau wali muridnya.
Lagi-lagi mengalami gegar pembelajaran yang luar biasa. Orang tua yang sibuk
bekerja dengan terpaksa harus mendampingi anak-anak mereka pada saat jam
pembelajaran daring. Anak-anak yang biasanya di sekolah, berubah seketika untuk
melakukan aktifitas pembelajaran di rumah. Untuk level SMP, SMA, hingga
perguruan tinggi barangkali tidak terlalu mengkhawatirkan.
Tidak sedikit guru yang sekadar memberikan tugas
kepada para muridnya, melalui aplikasi pesan grup daring yakniaplikasi
whatsapp. Guru membuat grup dengan para orang tua/wali murid untuk update apa
saja yang perlu dilakukan tiap harinya selama proses pembelajaran. Lalu pada
sore hari guru akan mengoreksi dan mengabsen siapa murid yang tidak atau belum
mengumpulkan tugas yang diberikan oleh guru.
Gegar teknologi digital untuk pembelajaran
daring Hemat penulis metode ini memiliki banyak kelemahan karena aplikasi pesan
daring dari aplikasi whatsapp ini sesungguhnya bukan medium untuk mendukung
aktifitas pembelajaran. Repotnya, tidak sedikit para guru yang memahami cukup
menggunakan aplikasi whatsapp untuk mendukung aktifitas pembelajaran. Apakah
salah menggunakan aplikasi pesan daring tersebut? Memang bukan benar salah,
namun tepatkah penggunaan aplikasi pesan daring ini sebagai medium pembelajaran
di saat krisis Covid-19. Untuk sesekali digunakan barangkali tidak masalah,
namun jika digunakan setiap hari dari Senin-Jumat selama berbulan-bulan maka
akan berdampak tidak sehat bagi pembelajaran itu sendiri.
Adapun para guru yang dapat diandalkan
yaitu mereka yang berada di usia milenial, kelahiran di atas tahun 1981-an.
Kelompok guru ini sangat adaptif dan cepat mengikuti perubahan dan semangat
pembelajaran daring di masa adaptasi kebiasaan baru ini. Aplikasi pesan daring
sesungguhnya adalah medium yang sangat privat, untuk saling bertukar informasi
satu dengan yang lainnya. Apapun bidangnya. Bukan didesain sebagai tools untuk
aktifitas pembelajaran yang masif antara guru dengan para muridnya. Belakangan
ramai digunakan aplikasi untuk mendukung pembelajaran dengan menggunakan zoom
yang paling populer, selain juga google classroom. Dapat dilakukan secara
interaktif hingga ratusan bahkan ribuan orang dalam sekali aktifitas.
Hambatan-hambatan pendidikan daring Ada
sekian kendala: baik kendala ekonomi, kendala koneksi internet yang tidak
stabil, ditambah dengan metode pembelajaran daring seefektif apa. Inilah
beberapa permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan kita di tengah
Covid-19. Aktifitas pendidikan bukan semata-mata guru memberikan soal-soal lalu
para murid diminta menjawab, lantas diberi nilai matematis. Bukan itu poinnya.
Ini yang terjadi berdasarkan amatan penulis di masa Covid-19. Pemahaman para
guru masih banyak yang berhenti pada pembelajaran sekadar dimaknai memberikan
soal-soal dari guru kepada murid. Hal ini tentu saja menunjukkan pekerjaan
rumah luar biasa berat bagi kita semua memperbaiki sistem pendidikan kita
jelang peringatan hari Kemerdekaan RI ke-75.Masalah koneksi internet semestinya
menjadi domain Kementerian Komunikasi dan Informasi, lalu masalah kesehatan
jelas berada di koordinasi Kementerian Kesehatan. Sekiranya tiga kementerian
saling bahu-membahu mempersiapkan infrastrukturnya maka tidak ada yang mustahil
membangun kualitas intelektualitas peserta didik yang tetap sehat di masa adaptasi
kebiasaan baru era Covid-19 serta didukung jaringan internet yang selalu
stabil. Praktik pendidikan di era digital memerlukan inovasi dan kreasi yang
terus-menerus sehingga guru maupun anak didik tidak mudah mengalami kejenuhan
dan kebosanan. Pun jangan dimaknai pembelajaran daring sekadar memberikan
sekian soal kepada murid untuk menjawabnya. Kalau ini yang terjadi maka
pembelajaran yang membebaskan dan berkarakter akan berhenti di slogan tanpa
pernah diketahui spirit di dalamnya.
Praktik pendidikan di era digital memerlukan
inovasi dan kreasi yang terus-menerus sehingga guru maupun anak didik tidak
mudah mengalami kejenuhan dan kebosanan. Pun jangan dimaknai pembelajaran
daring sekadar memberikan sekian soal kepada murid untuk menjawabnya. Kalau ini
yang terjadi maka pembelajaran yang membebaskan dan berkarakter akan berhenti
di slogan tanpa pernah diketahui spirit di dalamnya. Oleh karena itu belajar
sesungguhnya tidak pernah berhenti sejak dari dalam kandungan hingga ke liang
lahat andemi
Covid-19 berdampak pada dunia pendidikan, termasuk pendidikan tinggi. Adanya
wabah virus corona ini menghambat kegiatan belajar mengajar yang biasanya
berlangsung secara tatap muka.
Kendati begitu, pandemi ini mampu mengakselerasi pendidikan 4.0. Sistem
pembelajaran dilakukan jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi informasi.
Hampir sebagian besar negara yang terpapar virus tersebut meliburkan dan
memindahkan aktivitas belajar siswa sekolah ke rumah. Siswa melakukan aktivitas
belajar dari rumah sebagai pengganti siswa tidak dapat belajar di sekolah. Hal
ini dilakukan sebagai jalan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19
dengan aktivitas menjaga jarak sosial (sosial distancing).Kebijakan belajar
dari rumah di tengah pandemi Covid-19 juga dilakukan sekolah-sekolah di
Indonesia. Kebijakan ini didasarkan pada Surat Edaran (SE) Mendikbud No 4 Tahun
2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran
Covid-19. Salah satu isi SE tersebut adalah memberikan himbauan untuk belajar
dari rumah melalui pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh.Proses
pembelajaran daring sebenarnya tidak mudah diberlakukan di Indonesia. Dalam
proses pelaksanaannya, banyak keterbatasan dan permasalahan yang terjadi di
lapangan. Menurut pengamatan dan refleksi penulis dari berbagai sumber, ada
beberapa kendala dalam melaksanakan pembelajaran daring di Indonesia.
Pertama, masih banyak guru yang mempunyai
keterbatasan dari sisi akses maupun pemanfaatan gawai yang dimiliki. Tidak
semua guru punya kemampuan untuk mengoperasikan dan memanfaatkan gawai
canggihnya. Bagi guru yang melek teknologi, tentu hal ini tidak menjadi
masalah. Sebaliknya, bagi guru yang masih gagap teknologi, hal ini menjadi
masalah. Padahal, pembelajaran daring memerlukan kreativitas dalam proses
pembelajarannya. Kreativitas ini tidak hanya dari sisi pembuatan konten
materi yang menarik, tetapi juga kreativitas dalam memanfaatkan kelebihan media
daring yang digunakan. Artinya, guru harus pintar mengkreasi materi pelajaran
agar mudah dipahami oleh siswa dengan memanfaatkan media daring yang ada.
Kedua, kemandirian belajar siswa di rumah tidak
dapat sepenuhnya dapat terlaksana dengan baik. Kemandirian belajar menjadi
tuntutan yang harus dipenuhi dalam pembelajaran daring. Keterbatasan untuk
bertatap muka langsung dengan guru, membuat siswa harus mandiri dalam memahami
materi dan mengerjakan tugas yang ada. Siswa harus memahami dengan baik materi
yang disajikan. Kemudian, menyelesaikan tugas yang diberikan guru termasuk juga
melaporkannya. Dalam memahami materi dan mengerjakan tugas tersebut, tentu
proses aktivitas belajar siswa tidak semulus dan semudah yang dibayangkan.
Ketidakpahaman atau miskonsepsi suatu materi mungkin saja terjadi. Apalagi jika
materi yang diberikan, butuh penjelasan yang lebih detail dan mendalam.Guru harus memastikan
kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, meskipun siswa berada di rumah.
Solusinya, guru dituntut dapat mendesain media pembelajaran sebagai inovasi
dengan memanfaatkan media daring (online).Hal ini sesuai dengan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia terkait Surat Edaran Nomor 4 Tahun
2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran
Corona Virus Disease (COVID-19).Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat
personal computer (PC) atau laptop yang terhubung dengan koneksi jaringan
internet. Guru dapat melakukan pembelajaran bersama diwaktu yang sama
menggunakan grup di media sosial seperti WhatsApp (WA), telegram, instagram,
aplikasi zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran. Dengan
demikian, guru dapat memastikan siswa mengikuti pembelajaran dalam waktu yang
bersamaan, meskipun di tempat yang berbeda.Semua sektor merasakan dampak
corona. Dunia pendidikan salah satunya. Dilihat dari kejadian sekitar yang
sedang terjadi, baik siswa maupun orangtua siswa yang tidak memiliki handphone
untuk menunjang kegiatan pembelajaran daring ini merasa kebingungan, sehingga
pihak sekolah ikut mencari solusi untuk mengantisipasi hal tersebut. Beberapa
siswa yang tidak memiliki handphone melakukan pembelajaran secara berkelompok,
sehingga mereka melakukan aktivitas pembelajaran pun bersama. Mulai belajar
melalui videocall yang dihubungkan dengan guru yang bersangkutan, diberi
Ketiga, tugas dan
pekerjaan rumah yang diberikan guru membebani siswa. Pembelajaran daring
selayaknya tidak membebani siswa dalam belajar. Siswa harusnya mempunyai
kebebasan dalam aktivitas belajarnya. Tidak tertekan dengan banyaknya tugas dan
waktu penugasan yang pendek. Termasuk juga dikejar-kejar dengan deadline
pengumpulan tugas yang diberikan oleh guru. Artinya,materi dan jenis penugasan
selayaknya diberikan waktu yang bijak dan sebisa mungkin terkait dengan
kesadaran bahaya wabah Covid-19.
Keempat, tidak semua
siswa mempunyai gawai (handphone). Gawai merupakan alat utama yang digunakan
untuk pembelajaran daring. Tetapi, tidak semua siswa mempunyai alat komunikasi
ini. Mungkin, bisa saja gawai menjadi barang mewah bagi siswa dari kalangan
ekonomi tidak mampu. Akibatnya, siswa tidak punya fasilitas pembelajaran
daring.
Kelima, pembelajaan daring terkendala dengan signal
internet yang tidak stabil dan pulsa (kuota data) yang mahal. Kita tahu, bahwa
Indonesia mempunyai kondisi geografis yang beragam. Keragaman kondisi letak
geografis rumah siswa yang beragam menjadi masalah terutama terkait kestabilan
signal internet.
Permasalahan
yang terjadi bukan hanya terdapat pada sistem media pembelajaran akan tetapi
ketersediaan pertanyaan satu persatu, hingga mengapsen melalui VoiceNote yang
tersedia di WhatsApp. kuota yang membutuhkan biaya cukup tinggi harganya bagi
siswa dan guru guna memfasilitasi kebutuhan pembelajaran daring. Kuota yang
dibeli untuk kebutuhan internet menjadi melonjak dan banyak diantara orangtua
siswa yang tidak siap untuk menambah anggaran dalam menyediakan jaringan
internet.Hal ini pun menjadi permasalahan yang sangat penting bagi siswa, jam
berapa mereka harus belajar dan bagaimana data (kuota) yang mereka miliki,
sedangkan orangtua mereka yang berpenghasilan rendah atau dari kalangan
menengah kebawah (kurang mampu). Hingga akhirnya hal seperti ini dibebankan
kepada orangtua siswa yang ingin anaknya tetap mengikuti pembelajaran
daring.Pembelajaran daring tidak bisa lepas dari jaringan internet. Koneksi
jaringan internet menjadi salah satu kendala yang dihadapi siswa yang tempat
tinggalnya sulit untuk mengakses internet, apalagi siswa tersebut tempat
tinggalnya di daerah pedesaan, terpencil dan tertinggal. Kalaupun ada yang
menggunakan jaringan seluler terkadang jaringan yang tidak stabil, karena letak
geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler. Hal ini juga menjadi
permasalahan yang banyak terjadi pada siswa yang mengikuti pembelajaran daring
sehingga kurang optimal pelaksanaannya.Ramai diberbagai media sosial yang menceritakan
pengalaman orangtua siswa selama mendampingi anak-anaknya belajar baik positif
maupun negatif. Seperti misalnya ternyata ada orangtua yang sering marah-marah
karena mendapatkan anaknya yang sulit diatur sehingga mereka tidak tahan dan
menginginkan anak mereka belajar kembali di sekolah.Kejadian ini memberikan
kesadaran kepada orangtua bahwa mendidik anak itu ternyata tidak mudah,
diperlukan ilmu dan kesabaran yang sangat besar. Sehingga dengan kejadian ini
orangtua harus menyadari dan mengetahui bagaimana cara membimbing anak-anak
mereka dalam belajar. Setelah mendapat pengalaman ini diharapkan para orangtua
mau belajar bagaimana cara mendidik anak-anak mereka di rumah.
Perlu
disadari bahwa ketidaksiapan guru dan siswa terhadap pembelajaran daring juga
menjadi masalah. Perpindahan sistem belajar konvensional ke sistem daring amat
mendadak, tanpa persiapan yang matang. Tetapi semua ini harus tetap
dilaksanakan agar proses pembelajaran dapat berjalan lancar dan siswa aktif
mengikuti walaupun dalam kondisi pandemi Covid-19.
Kegagapan
pembelajaran daring memang nampak terlihat di hadapan kita, tidak satu atau dua
sekolah saja melainkan menyeluruh dibeberapa daerah di Indonesia.
Komponen-komponen yang sangat penting dari proses pembelajaran daring (online)
perlu ditingkatkan dan diperbaiki. Pertama dan terpenting adalah jaringan
internet yang stabil, kemudian gawai atau komputer yang mumpuni,aplikasi dengan
platform yang user friendly, san sosialisasi daring yang bersifat efisien,
efektif, kontinyu, dan integratif kepada seluruh stekholder pendidikan.Solusi
atas permasalahan ini adalah pemerintah harus memberikan kebijakan dengan
membuka gratis layanan aplikasi daring bekerjasama dengan provider internet dan
aplikasi untuk membantu proses pembelajaran daring ini. Pemerintah juga harus
mempersiapkan kurikulum dan silabus permbelajaran berbasis daring. Bagi
sekolah-sekolah perlu untuk melakukan bimbingan teknik (bimtek) online proses
pelaksanaan daring dan melakukan sosialisasi kepada orangtua dan siswa melalui
media cetak dan media sosial tentang tata cara pelaksanaan pembelajaran daring,
kaitannya dengan peran dan tugasnya.Dalam proses pembelajaran daring, penting
untuk ditambahkan pesan-pesan edukatif kepada orangtua dan peserta didik,
tentang wabah pandemi Covid-19. Dengan demikian kita dapati pembelajaran yang
sama dengan tatap muka
tetapi berbasis online.
Efeknya sangat bagus, programnya tepat sasaran, dan capaian pembelajarannya
tercapai.
Ada sebuah
pelajaran yang dipetik dari dunia pendidikan di tengah pandemi Covid-19, yakni
kegiatan belajar tatap muka dengan guru terbukti lebih efektif ketimbang secara
daring (online). Hal tersebut dipaparkan oleh pakar pendidikan Universitas
Brawijaya (UB) Aulia Luqman Aziz bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional
2020. “Selamanya profesi guru tidak akan tergantikan oleh teknologi” papar
Luqman dalam keterangannya di laman resmi UB, Sabtu (2/5/2020). Menurutnya
pembelajaran penuh secara daring, akhir-akhir ini banyak menimbulkan keluhan
dari peserta didik maupun orangtua.Beberapa guru di sekolah mengaku, jika
pembelajaran daring ini tidak seefektif kegiatan pembelajaran konvensional
(tatap muka langsung), karena beberapa materi harus dijelaskan secara langsung
dan lebih lengkap. Selain itu materi yang disampaikan secara daring belum tentu
bisa dipahami semua siswa. Berdasarkan pengalaman mengajar secara daring,
sistem ini hanya efektif untuk memberi penugasan, dan kemungkinan hasil
pengerjaan tugas-tugas ini diberikan ketika siswa akan masuk, sehingga
kemungkinan akan menumpuk.Mengamati pengalaman dari beberapa guru tersebut,
maka guru juga harus siap menggunakan teknologi sesuai dengan perkembangan
zaman. Guru harus mampu membuat model dan strategi pembelajaran yang sesuai
dengan karakter siswa di sekolahnya. Penggunaan beberapa aplikasi pada
pembelajaran daring sangat membantu guru dalam proses pembelajaran ini. Guru
harus terbiasa mengajar dengan memanfaatkan media daring kompleks yang harus
dikemas dengan efektif, mudah diakses, dan dipahami oleh siswa.
Dengan
demikian guru dituntut mampu merancang dan mendesain pembelajaran daring yang
ringan dan efektif, dengan memanfaatkan perangkat atau media daring yang tepat
dan sesuai dengan materi yang diajarkan. Walaupun dengan pembelajaran daring
akan memberikan kesempatan lebih luas dalam mengeksplorasi materi yang akan
diajarkan, namun guru harus mampu memilih dan membatasi sejauh mana cakupan
materinya dan aplikasi yang cocok pada materi dan metode belajar yang
digunakan.Hal yang paling sederhana dapat dilakukan oleh guru bisa dengan
memanfaatkan WhatsApp Group. Aplikasi WhatsApp cocok digunakan bagi pelajar
daring pemula, karena pengoperasiannya sangat simpel dan mudah diakses siswa.
Sedangkan bagi pengajar online yang mempunyai semangat yang lebih, bisa
menngkatkan kemampuannya dengan menggunakan berbagai aplikasi pembelajaran
daring.Namun sekali lagi, pilihlah aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan guru
dansiswa itu sendiri. Tidak semua aplikasi pembelajaran daring bisa dipakai
begitu saja. Namun harus dipertimbangkan sesuai kebutuhan guru dan siswa,
kesesuaian terhadap materi, keterbatasan infrastrukur perangkat seperti
jaringan. Sangat tidak efektif jika guru mengajar dengan menggunakan aplikasi
zoom metting namun jaringan atau signal di wilayah siswa tersebut tinggal
tidaklah bagus.
Keberhasilan
guru dalam melakukan pembelajaran daring pada situasi pandemi Covid-19 ini
adalah kemampuan guru dalam berinovasi merancang, dan meramu materi, metode
pembelajaran, dan aplikasi apa yang sesuai dengan materi dan metode.
Kreatifitas merupakan kunci sukses dari seorang guru untuk dapat memotivasi
siswanya tetap semangat dalam belajar secara daring (online) dan tidak menjadi
beban psikis.Di samping itu, kesuksesan pembelajaran daring selama masa
Covid-19 ini tergantung pada kedisiplinan semua pihak. Oleh karena itu, pihak
sekolah/madrasah di sini perlu membuat skema dengan menyusun manajemen yang
baik dalam mengatur sistem pembelajaran daring. Hal ini dilakukan dengan membuat
jadwal yang sistematis, terstruktur dan simpel untuk memudahkan komunikasi
orangtua dengan sekolah agar putra-putrinya yang belajar di rumah dapat
terpantau secara efektif.
Dengan
demikian, pembelajaran daring sebagai solusi yang efektif dalam pembelajaran di
rumah guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19, physical distancing
(menjaga jarak aman) juga menjadi pertimbangan dipilihnya pembelajaran
tersebut. Kerjasama yang baik antara guru, siswa, orangtua siswa dan pihak
sekolah/madrasah menjadi faktor penentu agar pembelajaran daring lebih
efektif.Semoga pandemi Covid-19 ini cepat berlalu seiring dengan new normal
yang telah diberlakukan oleh pemerintah. Sehingga proses pembelajaran bisa
terlaksana seperti semula dengan kehadiran guru dan siswa yang saling
berinteraksi langsung. Aamiin Ya Rabbal’alamin.Pemerintah
pun mempunyai kendala yang sangat besar dalam mengatasi kendala ini karena
menyangkut dengan persoalan ekonomi, sosial kesehatan, pendidikan, keamanan dan
lain-lain dalam mengatasi Covid-19.Maka di sini diperlukan kerjasama yang baik
antara pemerintah dan warga masyarakat dalam rangka memutuskan mata rantai
penyebaran Covid-19 dalam skala besar dan luas sehingga virus ini tidak berdaya
menyebar ke warga masyarakat lainnya, dengan menerapkan sistem ketaatan dan
disiplin bagi warga itu sendiri.Dilema ini juga berimbas ke dalam dunia
pendidikan walaupun sudah ada sebuah regulasi baru yang di keluarkan oleh
pemerintah, dengan pembatasan kegiatan di setiap satuan pendidikan.Dengan
sistem proses belajar mengajar di satuan pendidikan wajib mematuhi dan menaati
oleh setiap warga dari satuan pendidikan di seluruh Indonesia khususnya, tetapi
ini bukan berarti guru dan siswa hanya bebas belajar.Guru dan siswa tetap harus
melaksanakan pembelajaran di rumah masing-masing dengan metode daring (dalam
jaringan), metode luring (jaringan luar) atau dengan media lainnya yang bisa
mengakses model pembelajaran sesuai dengan aturan protokol di satuan pendidikan
masing-masing.
Kebijakan
pembelajaran melalui metode daring merupakan sebuah manfaat yang sangat besar
bagi siswa di era teknologi digital, sehingga dapat memberi hak-hak otonomi
bagi siswa agar proses belajar tetap berjalan, meskipun dalam kondisi yang
sangat prihatin dalam menghadapi darurat pandemi Covid-19.Namun demikian, masih
banyak kendala yang dihadapi guru dan siswa yang muncul dalam pembelajaran
metode daring yang tidak bisa dihindari.Sebagaimana contoh, yang akan terjadi
di satuan pendidikan atau daerah 3T (daerah tertinggal, terdepan, dan terluar)
yang terkendala dengan koneksi jaringan internet yang tidak ada, tentu ini
tidak bisa dilaksanakan dengan sistem daring ataupun media teknologi lainnya. oleh karena keterbatasan
pemerataan teknologi sehingga bagi mereka belum bisa dan sulit melaksanakan pembelajaran
daring ataupun dengan media lainya.Alasan lain yang muncul adalah masih
banyaknya satuan pendidikan yang belum familiar dengan perkembangan informasi
dan komunikasi sehingga beberapa platform pembelajaran daring yang dapat
digunakan dalam pembelajaran daring.
SD Negeri
Naikoten
1 Kota Kupang adalah salah satu sekolah yang juga mengalami imbas covid
19 sehingga tanpa persiapna dan
pembekalan pembelajaran daring dan luring dilaksanakan guru dan siswa. siswa
dan guru sama sama merasa tertekan dan menjadi stress oleh karena guru dengan
segala keterbatasan dan kemampuan seadainya harus berusaha menyampaikan materi
ajar kepada siswa yang belajar dari rumah,(BDR), siswa dan orang tua yang siswa
yang dengan kemampuan seadainya harus berusaha mendidik anaknya agar bisa
mengerti pelajaran. Bagi yang orang tua
yang tidak memiliki HP android harus bekerja keras untuk mengkopi buku, membeli
buku,membeli HP, bahkan sudah memiliki HP juga harus mengisi pulsa data. Semua
ini menjadi dilemma besar bagi orang tua siswa. Guru harus bisa berusaha menyampaiknmateri
kepada siswa secara luring dengan
mengunjungi rumah-rumah mereka.dan daring setiap hari dengan kemampuang
seadainya melalui WA grup.dengan harapan siswa SDN Naikoten 1 terus menjadi
siswa yang cerdas bukan saja peajaran tetapi juga kemampuan IT.karena siswa
tidak hanya belajar dari guru saja tetapi mereka juga belajar dari internet. Kini
tidak terasa 9 bulan sudah pembelajaran online /BDR berlangasung. Dengan
demikian penulis menyadari bahwa guru dan siswa SDN Naikoten satu adalah guru
yang hebat dan mampu melakukan apa saja demi kelangsungan pendididkan generasi
muda Indonesia. Guru-guru yang hebat dan Siswa SDN Naikoten 1 Kota Kupang tetaplah
semangat. “Karena masa depan mu sungguh ada dan harapan mu tidak akan hilang”.(Amsal
23 : 18).
Melalui
tulisan ini,penulis mencoba memberikan
gambaran tentang bagaimana manfaatnya teknologi informasi dan komunikasi dalam
dunia pendidikan di tengah wabah Covid-19.
Manfaat teknologi informasi bagi dunia pendidikan
Sering
kita melihat peran generasi muda atau siswa yang lahir era digital ini tidak
terpikir baginya sulit menggunakan teknologi, bahkan dengan teknologi membuat
mereka lebih matang dan mandiri dalam hal pemanfaatan teknologi tersebut untuk
membantu proses belajarnya. Bahkan siswa tahu bagaimana mendidik diri sendiri
dan mencari informasi melalui teknologi informasi dan komunikasi.Berdasarkan
ini keputusan pemerintah melaksanakan pembelajaran di rumah bisa terjadi di
setiap satuan pendidikan di saat wabah Covid-19, asalkan teknologi informasi
(jaringan internet) terjangkau ke setiap satuan pendidikan.Sebuah Penelitian
Cambridge International melalui Global Education Census 2018 menunjukkan bahwa
siswa Indonesia sangat akrab dengan teknologi informasi, tidak hanya dalam
berinteraksi di media sosial tetapi juga untuk kebutuhan pembelajaran.
Berdasarkan
hasil penelitian itu bahwa siswa Indonesia menduduki peringkat tertinggi secara
global selaku pengguna ruang IT atau komputer di sekolah baik melakukan
pembelajaran dengan guru maupun dengan sesama mereka.Maka dalam hal ini pemerintah
sangat tepat mengeluarkan sebuah regulasi menyangkut dengan sistem pembelajaran
daring di setiap satuan pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai ke
perguruan tinggi, agar bangsa Indonesia tidak ternoda dengan hal-hal yang tidak
dibenarkan oleh agama maupun negara agar cepat terhindar dari wabah Covid-19.
Dengan
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu cepat dampak yang
sangat besar dari sebuah fakta pada lingkungan siswa seperti terjadi interaksi
belajar-mengajar antar guru dan siswa dalam dunia pendidikan saat ini, karena
siswa lebih dilengkapi teknologi, daripada seorang guru.Di sinilah perlu
melibatkan tenaga profesional yang ada di setiap satuan pendidikan untuk
meningkatkan kompleksitas proses pembelajaran di satuan pendidikan yang
terutama harus melibatkan kepala sekolah sebagai pemimpin manajerial di
sekolah.Dengan kemampuan sebagai seorang manajer kepala harus bisa melibatkan
guru dan siswa, admin atau pun operator sekolah, komite serta orang tua siswa,
dengan memanfaatkan anggaran sekolah secara efisien dan efektif sesuai dengan
kemampuan sekolah masing-masing, demi berlangsungnya sistem pembelajaran
daring.Semua ini sangat tergantung kepada kepala sekolah, melalui kepala
sekolahlah kebijakan untuk membuka terobosan baru di sekolah seperti
merencanakan, dan melaksanakan pembelajaran melalui media teknologi informasi
dan komunikasi yang ada.
Guru
hanya sebagai pengelola kelas yang memiliki peran penting dalam keberhasilan
pelaksanaan pembelajaran secara daring tersebut. Ini yang menyangkut
tugas-tugas yang harus dilakukan guru seperti merencanakan, mempersiapkan,
melaksanakan dan mengevaluasi proses pembelajaran melalui media daring, pengajaran,
bimbingan, dan pengawasan.Siswa harus mendapatkan fasilitas pembelajaran supaya
dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi-materi yang di berikan oleh guru
melalui sistem on-line.Administrator mempunyai kewajiban untuk mengakses dalam
mengelola keseluruhan sistem di antaranya mengelola master data sistem, dan
mengelola mengakses seluruh pengguna sistem seperti penyelenggara, guru dan
siswa dapat mengatur pengelolaan seluruh kelas melalui walikelasnya
masing-masing.Sistem pembelajaran seperti di saat wabah Covid-19 ini, sangat
sesuai digunakan dalam dunia pendidikan kita karena sesuai dengan keinginan
kurikulum 2103 di antaranya sekarang ini dilakukan Pembelajaran Berpusat Pada
Siswa (Student Centered Learning), sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) no. 81A tentang Implementasi
Kurikulum 2013.Permendikbud itu menyebut ada pola-pola pembelajaran yang perlu
diubah. Antara lain pola pembelajaran satu arah (interaksi guru-siswa) perlu
diubah menjadi pembelajaran interaktif, pola pembelajaran terisolasi menjadi
pembelajaran secara jejaring dengan pemanfaatan media teknologi informasi dan
komunikasi, dengan pola ini pembelajaran pasif menjadi pembelajaran
aktif-mencari.Sebagaimana seorang pengamat pendidikan Fernando Uffie, untuk
melakukan itu semua pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia
pendidikan sudah menjadi suatu kewajiban setiap satuan pendidikan.
Interaksi Guru dengan Siswa dalam belajar Daring
Sebuah
solusi belajar berbasis teknologi harus bisa menghadirkan sekaligus menguatkan
interaksi antara guru dan siswa, dengan sistem daring supaya proses
pembelajaran tetap berjalan sepeti yang diharapkan oleh masyarakat umum.Oleh
karena itu, solusi belajar berbasis teknologi pasti harus bisa memberikan
solusi tepat dan cepat pada saat siswa membutuhkan pembelajaran langsung bisa
interaksi antara guru dengan siswa secara daring.Dengan harapan bahwa solusi
belajar berbasis teknologi informasi bisa sejalan dengan apa yang diajarkan di
sekolah dan sesuai dengan kurikulum yang berlaku walaupun dalam kondisi pandemi
wabah Covid-19.Harus ada quality control dari tim akademik yang telah dibentuk
dalam rangka menanggulangi pembelajaran pada saat mengatasi wabah Covid-19
tentang materi.
Sistem ini harus dilakukan dengan penuh rasa
tanggung jawab, karena terkait dengan masa depan generasi anak bangsa. Oleh
karena itu guru harus memiliki kemampuan menguasai teknologi informasi dan
komunikasi, seperti mendesain konten pembelajaran, mengelola sumber belajar, membangun
kemandirian belajar siswa, dan berkomunikasi multi-arah.Pola interaksi aktif
yang baik harus dibangun, kegiatan belajar bisa dikontrol, kesulitan belajar
bisa diselesaikan, hasil belajar bisa terjamin dan berkualitas, dan dapat
mengevaluasi pembelajaran, Dengan memanfaatkan media teknologi secara daring
dan media lainnya yang sesuai dengan konektivitas internet yang ada di
masing-masing satuan pendidikan.Aktivitas pembelajaran guru dan siswa terus
berlangsung tanpa ada efek yang sedang dihadapi masyarakat sekarang yaitu
penyebaran Covid-19.Mudah-mudahan dengan sistem seperti ini wabah Covid-19 akan
segera lenyap dari lingkungan kehidupan manusia setelah semua komunitas manusia
mentaati serta disiplin mengikuti seluruh ketentuan pemerintah dalam masa
pencegahan pandemi wabah Covid-19.
Penulis merasa bangga dan
terus bersyukur kepada Tuhan karena dalam keadan seperti ini penulis dibimbing
dengan baik langkah demi langka oleh IAKN Ambon untuk mampu melakukan
pembelajaran dengan berbagai cara walaupun belum secara maksimal.. Terima kasih
IAKN Ambon yang di pakai Tuhan menjadi saluran pengetahuan bagi penulis, Tuhan
Yesus meberkati para dosen dan nara sumber serta rektor IAKN Ambon!. Terima
kasih KEMENAG RI dan KEMENAG Kota Kupang yang perkenankan penulis untuk belajar
dan belajar.! Terima kasih SDN Naikoten 1 Kota Kupang yang memberi izin untuk
penulis belajar dan belajar!. pertolongan kita iyalah dari Tuhan yang
menciptakan langit dan bumi dan yang memelihara kita sampai selama lamanya.
Semoga artikel ini berkenan bagi para pembaca. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan karena itu, komentar bapak ibu menjadi masukan bagi penulis untuk memperbaiki karya penulis. Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar